The Story of A Cat : Chapter 5

 

Bab V. 

Si Kucing Berhasil Melawan Musuhnya

 

Kejadian-kejadian yang terjadi telah menunjukkan kepada kita tentang kelakuan para tokoh dalam cerita ini. Karena takut kehilangan kembali kucing kesayangannya dan keuntungan yang mungkin di dapatkannya, Ibu Michel meningkatkan kewaspadaan dan perhatiannya pada si kucing.
Moumouth yang telah mengerti siapa musuh sebenarnya, bertekad untuk selalu menghindar dari si pengurus ruah, atau jika perlu akan melawannya dengan gigi dan cakar.
Dan Pak Lustucru, yang rencananya telah gagal total, semakin bertekad untuk melaksanakannya. Ia bersumpah untuk kehancuran si kucing malang yang tak berdosa itu. Bukan saja karena ia iri pada Ibu Michel, juga karena ia juga membenci kucing itu.

"Aku dipermalukan!" katanya pada diri sendiri dengan pahit. "Aku seharusnya sembunyi, pergi ke gurun pasir, dan mengubur diri sendiri di perut bumi! Apa!? Aku, Jérôme Lustucru, seorang lelaki dewasa berpengetahuan dan penuh pengalaman, seorang manusia —yang aku yakin — mempesona, telah dikalahkan, dihina, dibodohi oleh seekor kucing dari selokan!... Aku meninggalkannya di dasar sungai, dan menemukannya di atap rumah! Aku bersumpah akan memisahkannya dari penjaganya, dan aku akan menjatuhkan keduanya! Aku membawa Ibu Michel ke loteng untuk menyiksanya, dan di sana aku malah melihatnya gembira! Kucing yang kusangka telah mati, muncul kembali!...Tapi dia tidak akan bisa lepas lagi dariku!"
Kemudian Pak Lustucru tenggelam dalam lamunan yang dalam.


Pak Lutruscu Merenung
















Moumouth belum makan pagi ini, dan ia menunjukkannya dengan mengeong tanda ia ingin ada sesuatu yang bisa digigit di antara kedua giginya. Ibu Michel berkata padanya, seolah-olah ia berkata pada makhluk yang cerdas,—
"Bersabarlah tuan, kita akan melayanimu."
Dia turun dari ruang tamu, yang ia tinggali setelah kepergian Madame de la Grenouillère, ke kamar Pak Lustucru. Si kucing yang menemaninya dengan segera merasa tidak senang. Walaupun demikian ia tetap mengikutinya. Dengan ditemani seorang teman yang setia, si pengurus ruah tidak akan berani melakukan sesuatu yang buruk padanya.
Tepat pada saat Ibu Michel mengetuk pintu, Pak Lustucru sedang mengambil dari atas rak, sesuatu yang berwarna hijau dan bertuliskan "Kematian Untuk Tikus-Tikus".
"Inilah barangnya," ia bergumam, lalu memasukkan bungkusan kertas itu ke dalam rompi bajunya. "Kematian Untuk Tikus" juga artinya Kematian Untuk Kucing. Moumouth tersayang harus mencobanya.... Apa yang bisa kulakukan untukmu Ibu Michel yang baik?"
"Sudah jam lima, Pak Lustucru, dan kamu melupakan kucingku."



Bungkusan Warna Hijau




















"Aku lupa!" seru si pengurus rumah, menepuk kedua tangannya seolah merasa terluka karena dicurigai. "Aku baru saja ingat padanya... Aku akan membuatkannya hidangan yang amat lezat sehingga ia tak mau lagi yang lainnya."
"Terimakasih, Pak Lustucru! Aku akan beritahu Madame, sang putri, perawatanmu pada binatang kesayangannya. Aku menerima sebuah surat hari darinya hari ini, ia bilang akan segera pulang, ia berharap melihat Moumouth dalam kondisi sehat, dan ia sudah menyiapkan untukku imbalan yang pantas. Kamu pasti mengerti kegembiraanku, Pak Lustucru! Saudara perempuanku seorang janda dengan empat anak yang kuberi sedikit santunan setiap tahun. Saat ini jumlahnya tidak seberapa, tapi hadiah dari Madame, sang putri, akan bisa membantu anak-anak malang itu bisa bersekolah dan belajar berdagang."
Mata Ibu Michel berkaca-kaca dan tampak bersinar gembira,— sebagaimana jika seseorang melakukan atau membayangkan suatu perbuatan yang baik. Tapi si pengurus rumah tidak tergugah hatinya. Ia sudah bertekad bulat melakukan kejahatan, dan niat jahat sudah menguasainya mengalahkan semua sifat baik dalam dirinya. Seperti ilalang yang dibiarkan menghalangi tumbuhnya batang gandum yang baik.


"Ayo, Kita Pergi!"

Mungkin saja Moumouth mengerti sifat lelaki itu. Si kucing mendekati Ibu Michel, yang duduk di kursi sambil mengobrol. Ia menatap Ibu Michel dengan tatapan memohon, menarik-narik roknya, seperti sedang berkata :—
"Ayo, kita pergi!"
"Hati-hati!" kata wanita baik itu, "kamu merusak pakaianku."
Moumouth melakukannya lagi.
"Ada apa? Kamu ingin pergi keluar?" tanya Ibu Michel.
Moumouth menunjukkan gerakan-gerakan setuju.
"Sudah diputuskan," tambahnya, "kucing ini tidak boleh kemana-mana, hanya di ruang tamu ini."
Dia berdiri lalu berjalan diikuti Moumouth yang mengikuti dengan gembira.

Seperempat jam kemudian, si pengurus rumah telah menyiapkan sebuah hidangan yang menggiurkan terbuat dari daging ayam, roti terbaik, dan bahan-bahan lain yang akan dipuja oleh para penikmat makanan. Setelah menambahkan banyak "Kematian Untuk Tikus-Tikus" di dalam hidangannya, ia lalu mengantarkannya ke ruangan sebelah, membuka pintu ruang tamu dan berseru :
"Silahkan Tuan!"



Moumouth Senang Melihat Hidangan

Dihadapkan pada hidangan ini, Moumouth sangat gembira. Yah, karena sejujurnya ia juga sedikit rakus. Ia mengendus piring, tapi seketika ia melompat mundur dan melengkungkan punggungnya. Bau yang memuakkan memenuhi lubang hidungnya. Ia mengelilingi piring itu, mengendusnya sekali lagi dan kemudian mundur lagi. Binatang ini dengan cerdas merasakan adanya racun.
"Aneh sekali," kata Ibu Michel, dan setelah lelah mencoba menawarkan makanan itu pada kucingnya lalu pergi menemui Pak Lustucru.


Ia Mengendus Jijik

Si muka dua ini mendengarkan dengan kemarahan yang tertahan.
"Apa!" katanya, "ia telah menolak makannya? Mungkin ia tidak lapar."
"Itu yang kukira, Pak Lustucru. Hidanganmu kelihatannya enak. Akupun ingin mencicipinya, untuk memberi contoh pada Moumouth."
Mendengar ini Pak Lustucru menggigil, walaupun ia berhati keras. Untuk sesaat ia merasa takut pada kejahatannya, dan berseru tergesa-gesa :—



 
"Jangan Disentuh, Aku Mohon."


"Jangan disentuh, aku mohon!"
"Kenapa? Ada yang salah dengan hidangan ini?"
"Tidak, tentu saja tidak," jawab Pak Lustucru cepat-cepat, "tapi hidangan yang sudah dibuat untuk kucing tidak boleh dicicipi oleh manusia. Itu untuk menjaga sopan santun dan kehormatan seorang manusia."
Ibu Michel menerima alasan itu, dan berkata dengan tidak sabar :—
"Baiklah. Lakukan sesukamu Moumouth! Aku tidak akan menyerah begitu saja pada keinginanmu. Aku tidak akan memberinya makanan lain."
Besoknya hidangan belum juga dimakan.
Si pengurus rumah berharap si kucing mau memakannya karena kelaparan, tapi Moumouth sudah terbiasa sengsara. Ia sudah biasa kekurangan, hidup hanya dengan remah-remah roti. Ia mundur ketakutan setiap  kali penjaganya menawarinya piring mematikan itu, yang akhirnya dilupakan di sudut lemari ruang depan.


Piring Mematikan Lalu Dilupakan


Pak Lustucru semakin kesal setelah melihat muslihatnya gagal lagi. Hasratnya untuk menyingkirkan Moumouth menjadi obsesinya, sebuah keinginan yang ia impikan siang malam. Setiap surat yang dikirim oleh Madame de la Grenouillère selalu menanyakan keadaan si kucing dan selalu mengingatkan janjinya akan imbalan untuk Ibu Michel. Setiap tanda yang menunjukkan perhatian sang putri pada dua makhluk kesayangannya semakin membuatnya gelap mata. Pak Lustucru memikirkan semua rencana untuk menyingkirkan Moumouth tapi tidak membahayakan dirinya, tapi semuanya tampak tidak aman untuk dilakukan. Akhirnya ia memutuskan sesuatu hal : —


Louis XIV

Di atas pilar yang berat di kamar Ibu Michel, berdiri sebuah patung dada raja Louis XIV mengenakan helm romawi dan rambut palsu berhiaskan daun salam. Di belakang patung ini ada sebuah jendela bulat untuk melihat ke arah tangga. Tepat di depan pilar ini terletak sebuah bantal tempat tidur Moumouth, yang pasti akan remuk jika patung itu jatuh di kepalanya.
Suatu malam Pak Lustucru diam-diam masuk ke dalam kamar Ibu Michel, membuka jendela bulat yang ia biarkan terbuka sedikit, lalu pergi lagi diam-diam. Tepat tengah malam, ketika semua orang tidur, ia mengambil sebuah sapu panjang, lalu naik tangga dan berhenti di depan jendela bulat yang terbuka. Ia mendorong sapu panjang itu lewat jendela, mendorong patung dada hingga jatuh berdebum ke bantal di bawahnya.



Jatuhnya Lous XIV

Pria jahat ini memang berharap demikian, itu adalah tanda kemenangannya dan kematian Moumouth. Tapi ketika mendengar patung itu berguling di lantai dengan berisik, ia ketakutan setengah mati, lalu dengan kaki gemetar, menuruni tangga kembali ke kamarnya.
Ibu Michel terbangun kaget. Ia terbangun dalam kegelapan dan tidak punya sumber cahaya. Di zaman itu belum ada korek api. Kaget dan takut meliputinya, tanpa pikir panjang ia berteriak, "Maling!" dengan sekuat tenaganya. Tak berapa lama seluruh rumah terbangun, dan semua pelayan berlarian mencari tahu apa yang terjadi.



Pak Lustucru Muncul


Pak Lustucru akhirnya muncul, dengan topi tidur katun di kepalanya, dan sepasang sandal di kakinya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Aku tahu sekarang," jawab Ibu Michel. "Patung Louis XIV jatuh."
"Bah!" jawab Pak Lustucru berpura-pura terkejut. "Kalau begitu, kepala kucingmu pasti tertimpa olehnya."
Seketika ia berbicara, Moumouth muncul dari bawah kasur dan melompat ke Ibu Michel, seolah memohon pertolongan dan perlindungan. Pak Lustucru berdiri takjub.


Moumouth Muncul

Semua orang tahu  kalau kucing-kucing tak pernah tidur nyenyak. Moumouth selalu tidur dengan satu mata saja, terbangun ketika mendengar ada suara di balik jendela bulat. Seperti umumnya binatang, ia penuh rasa ingin tahu dan duduk diam di tengah kamar, mengamati sebuah kepala sapu muncul di tempat dan waktu yang tidak biasa. Jatuhnya patung membuatnya kaget, dan ia berlari menyelamatkan diri di bawah ceruk.

Para pelayan memberi Ibu Michel segelar air jeruk manis. Mereka mengangkat sang raja dari lantai. Hidung dan dagunya pecah, dan ia kehilangan setengah rambut palsunya yang indah. Semua orang lalu pergi tidur kembali.

"Selamat lagi!" kata Pak Lustucru. "Ia selalu bisa menghindar! Aku tidak bisa mengirimnya ke akhirat sebelum kedatangan sang putri! Ibu Michel akan menerima pensiun seribu limaratus keping uang, dan aku tetap bukan siapa-siapa, sama seperti sebelumnya. Si kucing kurang ajar itu tidak akan mempercayaiku, semua yang kulakukan sendiri padanya gagal... Sudah kuputuskan, aku akan minta tolong pada seseorang!"
Ibu Michel Siuman


***

Bab VI. Pak Lustucru Mengungkapkan Niat Buruknya Pada Nicholas Faribole

Lanjutkan >>

Alih bahasa ke bahasa Indonesia oleh Raqim
Sumber www.guttenberg.org