Halaman

Keledai, Ayam Jago, dan Singa

Pagi itu ayam jago seperti biasa bangun pagi. Ayam jago lalu bertengger di kayu di dalam lumbung. Tak lama, seekor keledai bangun dan masuk ke dalam lumbung. Asyik memakan jerami yang disediakan untuknya oleh Pak Tani .
Ternyata bukan hanya mereka yang bangun pagi hari itu. Seekor singa yang kelaparan, pergi jauh dari hutan mendekat ke pemukiman. Singa itu mengendap-endap di balik rerumputan, merayap menuju lumbung, lalu perlahan-lahan mendekati keledai dari belakang.
Singa mengambil ancang-ancang untuk melompat, ia siap menerkam keledai. Tapi tiba-tiba … Kukuruyuuuuuuk! Ayam jago berkokok keras sekali membuatnya terkejut bukan kepalang. Bukannya melompat ke depan menerkam keledai, singa melompat ke belakang terkaget-kaget. Ia lari terbirit-birit kabur dari lahan pertanian Pak Tani, berlari ke arah hutan.


Keledai sama kagetnya, dan ia lebih kaget lagi melihat singa lari ketakutan.
He-hah! He-hah!” keledai meringkik tertawa, “Singa ini mendengar kokok ayam saja takut!”
Bangkit keberanian keledai lalu ia berlari mengejar singa. Ia bermaksud menghajar singa itu kali ini.
“Tunggu kamu singa pengecut! Rasakan pembalasan kaumku!” begitu teriak si keledai.
Baru saja ia berkata begitu, singa berlari berbalik arah, melompat, dan segera menerkam si keledai.

Terjemah bebas dari The Ass, the Cock, and the Lion, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : terlalu percaya diri seringkali menyeret kita pada bahaya.