Halaman

Tampilkan postingan dengan label dongeng anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng anak. Tampilkan semua postingan

Serigala dan Singa

Suatu sore serigala mengendap-endap di bawah pagar kandang Pak Gembala. Ia melongok ke kanan ke kiri, sepertinya ia takut ketahuan. Melihat kelakuannya yang mencurigakan, sudah jelas ia akan berbuat jahat. Setelah berhasil melewati pagar, ia menyelinap ke balik kandang domba. Perlahan-lahan ia membuka pintu kandang lalu secepat kilat membawa kabur seekor anak domba.
Ia secepat mungkin keluar kandang, melompati pagar kayu, dan lari terburu-buru ke dalam hutan. Anak domba terkulai lemas terjepit oleh rahangnya yang kuat. "Sebentar lagi aku akan menikmati makan malam yang lezat!" pikir serigala. Tak jauh di depan sana, sarangnya yang nyaman sudah menunggu.
Tikungan terakhir sebelum sampai di rumahnya sudah dekat. Pikiran serigala tak bisa lepas dari lezatnya daging anak domba. Lezat, nikmat, empuk, dan gurih. Air liurnya tak terasa jatuh menetes-netes.
Serigala berbelok di tikungan terakhir, ...dan muncul di balik tikungan adalah seekor singa, si raja hutan yang gagah perkasa. Moncong serigala mencium hidung singa yang besar. Udara panas keluar dari dua cuping hidung si raja hutan, menghembus ke wajah serigala. Matanya yang bulat menatap serigala dengan pandangan mengerikan. Serigala melompat mundur saking kagetnya, tapi ia sudah tak mungkin lari.

"Grrrrrrrr!" singa menggeram, "apa yang kau bawa itu serigala?" Singa tidak mungkin terlalu bodoh atau rabun. Ia sudah tahu bahwa serigala membawa seekor anak domba.
"Akhu membhawaa anakhh dhomva, thuann singhaa," serigala menjawab tapi ia tak mau melepaskan gigitannya pada anak domba.
"Kamu mau main-main denganku!!!" teriak singa murka. Serigala takut bukan kepalang, ia terpaksa meletakkan anak domba di tanah, lalu menjawab, "Tidak tuan! Aku membawa anak domba."
"Bagus!" geram singa. Singa menaruh cakarnya yang besar dan lebar di atas tubuh anak domba. "Sekarang pergi!" perintah singa kepada serigala. Serigala tak mampu melawan, ia melangkah gontai menuju sarangnya. Setibanya di sarangnya yang aman, serigala masih menyimpan kesal. Ia melongok keluar sarang lalu berteriak keras-keras.
"Kamu sudah mengambil milikku dengan curang! Kamu tidak punya hak melakukannya! Dasar kamu tukang rampok!" serigala melampiaskan kekesalannya.
Singa menoleh sambil tertawa membahana. "Jadi anak domba ini milikmu ya! Apa Pak Gembala yang menghadiahkannya untukmu tadi sore?" tanyanya dengan sinis.
Serigala hanya bisa terdiam. Mana ada yang mau menghadiahinya daging anak domba yang lezat, nikmat, empuk dan gurih? Ia menyesali nasibnya, seorang pencuri yang kena rampok.

Terjemah bebas dari The Wolf and the Lion, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : mencuri dan merampok sama saja. Perbuatan jahat pasti akan mendapat hukuman yang setimpal.   

Serigala dan Kambing

 Serigala berjalan-jalan di sebuah lembah. Tak sengaja ia menatap tebing di atasnya. Betapa terkejutnya ia, seekor kambing sedang berada di atas tebing. Kambing itu merumput di tepi jurang.

"Berhenti!" serigala itu berteriak dengan suara yang terdengar cemas.
"Apa?" seru kambing dari atas tebing.
"Hati-hati, kamu berada di tepi jurang. Kamu bisa celaka di atas sana," seru serigala.
"Apaa?" seru kambing, kali ini dengan nada heran.
"Hati-hati! Kamu bisa jatuh terguling ke bawah. Di sana sangat berbahaya!" seru serigala dari bawah.
"Apaaa?" kambing belum lepas dari rasa herannya. Baru kali ini ia bertemu serigala yang baik hati seperti serigala ini. Tapi ia kambing yang tahu sopan-santun, ia lalu menjawab dengan ramah, "Terimakasih Pak Serigala! Aku akan berhati-hati."
"Kenapa kita tidak makan bersama di bawah sini? Rumputnya kelihatan jauh lebih empuk dan segar, dan yang pasti di sini kamu tidak akan terjatuh."
"Anda baik sekali Pak Serigala," jawab kambing, "Tapi tidak, terimakasih! Di sini pun rumputnya empuk dan segar," kambing menjawab sambil menjauh dari tebing. Sebaik-baiknya serigala, mereka tetap menyukai kambing untuk makan malam. Dari atas sana, ia mengamati serigala melangkah pergi menjauh dari bawah tebing.
"Hmmmm," pikir si kambing, "walaupun ia sering berbuat jahat, nasihat serigala itu benar, tapi aku tidak mau makan bersama dengan serigala. Setelah rumputnya kumakan, giliranku jadi makanan serigala." Kambing itu kembali mengunyah rumput tapi dengan lebih hati-hati.

Terjemah bebas dari The Wolf and The Goat, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : nasihat yang baik bisa datang dari siapa saja, tapi tetap berhati-hati pasti lebih baik.


Dua Kodok Bertetangga

Dua ekor kodok hidup bertetangga. Mereka tinggal tidak berjauhan, tapi tidak juga berdekatan. Kodok yang satu tinggal di sebuah kolam yang asri. Kolam itu berada di tepi hutan, tidak jauh dari jalan raya tapi tersembunyi dari pandangan. Kodok yang satu lagi tinggal di kubangan yang keruh. Kubangan itu berada di tepi jalan raya, tidak jauh dari hutan dan sangat terbuka terlihat dari mana-mana.
Kodok yang satu khawatir dengan keselamatan temannya. Ia berusaha membujuknya untuk tinggal bersamanya, berbagi kolam yang asri dengan dirinya.


"Kenapa kau tidak tinggal bersama diriku? Aku bersedia membagi tempat tinggalku untukmu."
"Kenapa?" jawab kodok yang satunya. "Kenapa aku harus pindah dari tempatku ini? Aku merasa nyaman tinggal di sini."
"Tempatmu tinggal sangat berbahaya!" kata kodok yang tinggal di kolam.
"Ah! Sudah seumur hidupku aku tinggal di sini. Aku suka pemandangannya. Aku suka melihat kesibukan jalan raya. Aku suka melihat orang-orang hilir mudik. Aku suka melihat pedati-pedati pulang dan pergi. Kuda, keledai, kerbau, kambing bergiliran lewat. Aku suka keramaian," jawab kodok temannya.
"Justru itulah kenapa berbahaya! Dengarkan aku, dan tinggal di tempatku yang lebih aman."
"Ah!" tukas kodok yang tinggal di kubangan, "aku senang di sini, dan aku bisa menjaga diriku sendiri!"
Waktu berlalu, dan mereka masih bertetangga baik. Tapi pada suatu hari, dua pedati besar lewat berpapasan. Dua ekor lembu besar menarik pedati itu. Jalan itu tidak cukup besar untuk dua pedati lewat bersamaan.
"Awas hati-hati!" seru Pak Sais pengendali pedati. Ia memandu pedatinya dengan cekatan, sebelah roda pedati melaju di pinggir jalan. Malang tak dapat ditolak, rodanya menggilas kubangan tempat tinggal si kodok.
"Tolong aku!" seru si kodok menjerit. Kodok temannya yang tinggal di kolam melompat tergesa-gesa berusaha menolongnya, tapi semua sudah terlambat. Roda pedati yang lebar dan besar menggilas kubangan. Air kubangan dan seluruh isinya berhamburan habis tak bersisa. Kubangan air itu sekarang hanya menjadi lubang dangkal berlumpur. Kodok mencari temannya tapi tak dapat menemukannya dimanapun.
Dengan sedih ia berkata, "Oh kawanku yang malang! Jika saja kamu mau mendengarkan aku!"

Terjemah bebas dari The Two Frogs, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : orang yang keras kepala, yang sama sekali tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, seringkali celaka karena ulahnya sendiri.

Si Peniup Terompet


Perang berkecamuk di mana-mana. Semua penduduk yang sudah dewasa diwajibkan untuk turut berperang, tidak ada kecuali. Semua anak lelaki yang sudah bisa memanggul senjata harus turut ke medan perang. Para wanita juga turut berjuang di garis belakang. Mereka menyiapkan bekal dan senjata. Mereka pun mengobati semua korban yang terluka. Semua bekerja dengan tanpa kenal lelah. Musuh sudah di depan mata. Negeri sedang dalam bahaya.
Pasukan musuh tiba di lapangan terbuka di depan gerbang kota. Penduduk sudah bersiap-siap, mereka berbaris membawa senjata di balik gerbang. Zaman dahulu, perang dilakukan oleh dua pasukan yang berhadapan satu sama lain. Mereka berbaris berhadapan di lapangan terbuka yang luas. Masing-masing membawa tambur, genderang, dan terompet. Berbunyi bising sahut menyahut mereka menyemangati serdadu yang akan bertempur mati-matian. Demikian juga kali ini.
Penduduk kota berbaris keluar gerbang. Dua pasukan berhadapan. Terompet musuh berbunyi nyaring. Tot...teretetet...teretetet...teretetet! Pasukan musuh bersorak ganas. Terompet berbunyi lagi lebih nyaring. Tot...teretetet...teretetet...teretetet! Pasukan musuh bersorak lebih ganas. Sekali lagi terompet berbunyi lebih nyaring. Tot...teretetet...teretetet...teretetet! Kali ini pasukan musuh menyahut dengan teriakan perang yang panjang melengking. Mereka berlari kencang seperti dikejar banteng, menerjang pasukan penduduk kota. Serbu!!!
Dua pasukan itu bertempur habis-habisan. Suara pertempuran yang dahsyat terdengar hingga jauh ke pedesaan. Awalnya penduduk kota terdesak hingga ke gerbang kota, tapi mereka melawan balik. Penduduk kota berjuang lebih keras. Mereka bertempur lebih hebat. Mereka harus mempertahankan negeri dari penjajah. Terompet musuh sekarang terdengar sumbang. Toeet...toeet...toeet...pret!
Akhirnya pasukan musuh dipukul mundur. Suara terompet tak terdengar sama sekali. Medan pertempuran sunyi senyap, yang tersisa adalah suara-suara mengaduh serdadu yang minta pertolongan. Para penduduk berkeliling mencari korban yang selamat, dan seorang dari mereka lalu berteriak, "Hei, kemari semua! Aku menemukan si peniup terompet!" 
Peniup terompet musuh tergeletak di tanah, pura-pura mati. Ia tak sempat melarikan diri. Para penduduk berdatangan ke arahnya sambil menodongkan senjata. Ia tak mampu lagi berpura-pura mati, tubuh peniup terompet menggigil ketakutan setengah mati. "Hei! Ia masih hidup!" seru semua orang.
"Mohon ampuni aku! Aku hanya peniup terompet!" seru si peniup terompet. Ia duduk berlutut. "Aku tidak membawa senjata. Aku tidak menyakiti satupun dari kalian. Aku hanya meniup terompet tembaga kuningan ini."
"Justru karena itulah kami akan menghukummu dengan berat!" seru para penduduk. "Kamu tidak bertempur seperti kawanmu yang lain, tapi kamu memberi semangat kepada mereka sehingga mereka mau bertempur habis-habisan!"
Peniup terompet diam seribu bahasa. Ia akan menerima hukuman yang setimpal.

Terjemah bebas dari The Trumpeter Taken Prisoner, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : penghasut sama jahatnya dengan penjahat, malah ia lebih buruk karena mendorong orang melakukan kejahatan.

Pengelana dan Pohon Ek

Dua orang pengelana berjalan kepayahan di tengah padang rumput. Mereka sudah berjalan jauh dari desa terakhir yang mereka kunjungi, tapi hingga siang hari ini mereka belum mencapai desa berikutnya. Panas matahari membakar kulit mereka. Kulit mereka putih kemerahan seperti udang rebus. Langkah kaki yang tadinya tegap seperti tentara maju ke medan perang perlahan menjadi lambat seperti orang piknik menikmati pemandangan. Mereka berjalan lambat dan semakin lambat, sekarang mereka bahkan berjalan seperti kakek tua, punggung bungkuk, kaki tersaruk-saruk, tongkat di tangan mereka terantuk-antuk pada tanah dan batu.


Kali ini mereka sudah amat lelah. Mata mereka nanar karena perut lapar. Seorang dari mereka berkata, "Ayolah kita berhenti dahulu. Kakiku lemas seperti agar-agar!" "Baiklah, kita makan dahulu di bawah pohon ek itu," jawab kawannya sambil menunjuk sebuah pohon ek di atas bukit di hadapan mereka. Satu-satunya pohon yang mereka lihat di padang rumput yang luas membentang ini.  
Dengan susah payah mereka berjalan menanjak menaiki bukit. Setiba di bawah pohon segera mereka duduk melepas lelah dan membuka bekal. Bekal yang sedikit dan sederhana dengan cepat tandas. Dengan perut terisi mereka berbaring di bawah naungan pohon ek yang teduh. Mereka memandang langit biru bertaburan awan putih dan padang rumput yang luas seperti tak bertepi. Mereka bercakap-cakap dengan santai. 
"Lihatlah pohon ek ini," kata si pengelana.
"Ada apa dengan pohon ini?" tanya kawannya.
"Tidak apa-apa, dan memang itulah maksudku! Tak punya apa-apa! Pohon ek ini tak berguna," kata si pengelana. "Dia tidak menghasilkan buah untuk dimakan. Tidak ada gunanya kita menanam pohon ek..."
Pohon ek sedari tadi diam mendengarkan percakapan mereka, tapi mendengar dirinya disebut tak berguna langsung memotong perkataan si pengelana.
"Dasar kamu manusia tak tahu diuntung! Beraninya kamu berteduh di bawah naunganku lalu mengata-ngatai aku tak berguna! Dasar tak tahu berterimakasih!" seru pohon ek.
Terkejut mendengarnya, dua pengelana itu melompat dan lari tunggang-langgang terguling-guling menuruni bukit.

Terjemah bebas dari The Traveller and the Plane-Tree, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : banyak orang tidak mensyukuri apa yang mereka peroleh, padahal mereka telah mendapatkan hal yang baik bahkan yang terbaik.


Pelancong dan Anjingnya

Seorang lelaki tinggal di sebuah rumah di pinggir kota. Ia senang berjalan-jalan keliling kota, apalagi pada sore hari. Ia suka berjalan santai di taman-taman kota yang rindang. Ia senang melihat-lihat barang-barang yang dipajang para pedagang di etalase toko-toko mereka. Ia menikmati duduk-duduk di warung kopi langganannya, bisa seharian ia duduk di sana menyeruput secangkir kopi. Dia bisa duduk berjam-jam berdiam di tukang cukur. Ia suka berjemur di pinggir sungai, melancong di sana bersama pelancong yang lain. Dan ia selalu bepergian bersama anjingnya yang setia.

Hari ini sudah waktunya ia pergi melancong lagi. "Cepat bersiap! Kita akan pergi," serunya pada anjingnya. Ia masuk ke kamar untuk berdandan rapi, bahkan terlalu necis untuk sekedar pergi melihat-lihat pasar. Tapi ini memang kebiasaannya untuk selalu bersolek. Lama ia berdiri mematut-matut dirinya di depan cermin. Bolak-balik memilih kemeja yang cocok untuk cerahnya cuaca hari ini. Ia harus berpikir keras untuk menentukan sepatu mana yang cocok dengan kemejanya. Ia harus memilih topi yang senada dengan warna saputangannya. Dan ia ingin mantelnya dikenakannya dengan sempurna. Selama itu anjingnya menunggu dengan sabar, tapi lama-kelamaan matanya terasa berat dan akhirnya ia tertidur pulas.
Akhirnya! Sempurna! Aku memang tampan! pikir si lelaki dengan hati senang. "Sudah saatnya kita pergi," ia berseru memanggil anjingnya, tapi anjingnya tidak datang menemuinya. "Kemana anjing itu? Aku bisa terlambat pergi hari ini!"
Dengan menghentakkan kaki tak sabar ia melangkah menuju pintu keluar dan ia menemukan anjingnya sedang berbaring terlentang di keset pintu.
"Di sini kamu rupanya! Dasar anjing malas! Ayo kita pergi! Kita sudah terlambat!" lelaki itu memarahi anjingnya.
Si anjing menggeliat, ia menguap lebar, merentangkan semua kakinya lalu berdiri. Ia menatap tuannya, matanya berkedip-kedip. "Tuan!" katanya, "aku sudah siap, malah aku sudah menunggu tuan dari tadi."

Terjemah bebas dari The Traveller and His Dog, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : yang lamban, jika terlambat, sering menyalahkan temannya yang lain.


Burung Layang-Layang dan Kawan-Kawannya


Pagi itu Pak Tani bergegas menuju ladang. Ia membawa sebuah kantung. Tiba di ladang ia membuka kantungnya dan menyebarkan isinya di seluruh ladang. Burung layang-layang dan burung-burung lainnya mengamati dari atas pohon di tepi ladang. Burung-burung bersorak kegirangan, mereka berkicau riang, "Pak Tani membawa sekantung biji-bijian, makanan enak untuk kita semua!"
Sepulangnya Pak Tani dari ladang, burung-burung berpesta pora. Mereka turun ke ladang mematuki biji-bijian dengan ramai. Burung layang-layang turut turun berpesta. Segera ia tahu biji apa yang ditebar Pak Tani. Ia berteriak kepada kawan-kawannya,"Oiii, burung semuanya dengarkan dengan baik!"
Semua kawan burungnya mendongak ke arahnya, pasti ada hal penting yang akan dia sampaikan, pikir mereka. Burung layang-layang berteriak, "Ingat kawan! Semua biji ini harus dimakan, jangan sampai ada satupun yang tertinggal, kalau tidak kita akan menyesal!" Kawan-kawannya yang tadinya terdiam mendengarkan, ramai menggerutu, "Oh! Kami kira ada apa, kalau cuma begitu, tidak perlu diingatkan pun kita pasti makan dengan lahap!" Mereka melanjutkan mematuk biji-biji benih dengan bersemangat. Setelah puas, mereka terbang meninggalkan ladang.
Dengan cepat mereka melupakan ladang dan pesta biji-bijian tadi. Semua lupa kecuali burung layang-layang. Tak terasa waktu berlalu, beberapa biji tertinggal tumbuh bertunas. Tunas-tunas tanaman bermunculan di ladang Pak Tani. Tunas itu tumbuh menjadi pohon tinggi yang ramping. Pohon itu adalah pohon rami.
Pak Tani mengambil beberapa batang pohon rami. Ia membawanya pulang. Serat-serat pohon rami ia pintal menjadi tali rami yang lentur dan kuat. Tali itu ia jalin menjadi jaring yang lebar. Jaring itu ia ikat di batang-batang pohon rami di ladangnya. Pak Tani membawa lagi sebuah kantung. Ia sebarkan isinya di ladang dan burung-burung beramai-ramai mengamatinya dari atas pohon. Burung-burung bersorak lagi kegirangan, mereka berkicau riang, "Pak Tani membawa sekantung biji-bijian, makanan enak untuk kita semua!"
Pak Tani pulang dan burung-burung turun untuk berpesta. Mereka terbang turun ke ladang rami. Tapi malang, bukannya berpesta mereka malah terjerat. Burung-burung menggelepar dalam jaring tak mampu melepaskan diri. Burung layang-layang yang lewat di atas ladang hanya bisa menyaksikan dengan sedih, "Ahhh, jika saja mereka mau mendengarkan peringatanku!"

Terjemah bebas dari The Swallow and the Other Birds, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : Lebih baik mencegah kejelekan sedari dini daripada menyesal kemudian.

Orang Kaya dan Tukang Samak

Di sebuah desa ada seorang penyamak kulit. Sudah turun temurun keluarganya bekerja mengolah kulit. Ia mengolah kulit binatang mentah menjadi bahan kulit yang kuat dan tahan lama. Pekerjaannya sungguh bermanfaat. Ia menyiapkan bahan kulit untuk dibuat menjadi berbagai barang idaman para penduduk negeri.

Suatu hari seorang saudagar kaya pindah ke desa itu. Ia menempati rumah besar di samping kediaman si tukang samak yang sederhana. Dan segeralah ia menyesal tinggal di rumah barunya. Baru sehari ia tinggal, ia tidak tahan dengan bau busuk kulit-kulit mentah. Baunya benar-benar busuk, baunya seperti ada makhluk mati yang tergeletak di atap rumahnya. Sebagai orang kaya, tentunya bukan ia yang harus mengalah, begitu pikir saudagar itu. Tidak ada kata lain, si tukang samak harus pindah dari rumahnya! Esok harinya ia mendatangi rumah tukang samak.
"Hai Tukang Samak! Aku tetangga barumu dan aku tidak tahan dengan bau busuk dari rumahmu ini. Segeralah kamu pindah dari sini!" saudagar kaya berucap tanpa basa-basi.
Tukang samak melongo. Sudah seumur hidup ia tinggal di rumah itu, malah sudah turun temurun keluarganya tinggal di desa ini, namun tiba-tiba ada seseorang yang mengusirnya pergi. Seseorang yang baru sehari menjadi tetangganya! Tukang samak itu melihat saudagar itu dari ujung kaki hingga kepala. Wah, aku berurusan dengan orang kaya begitu pikirnya, dan aku tak mau mendapat kesulitan karenanya. Tukang samak akhirnya menjawab perlahan, "Baik Tuan! Tapi ijinkan aku menyelesaikan pekerjaan-pekerjaanku ini dahulu. Masih banyak kulit mentah yang harus kuolah dulu. Jika sudah habis maka aku akan segera pindah."
"Bagus! Kamu cukup pandai untuk tidak macam-macam denganku! Aku akan beri kamu seminggu," saudagar kaya berkata dengan ketus sambil menjepit hidungnya dengan jari 4 jari.
Beberapa hari kemudian, saudagar kaya menemui lagi tukang samak. Ia mengingatkan tukang samak agar segera pindah dari rumahnya yang berbau busuk itu. "Tapi kulit-kulit mentahku masih ada untuk disamak, tuan saudagar. Aku minta seminggu lagi," pinta tukang samak. "Baiklah!" saudagar kaya mengabulkannya sambil menjepit hidung dengan 3 jari.
Seminggu kemudian tukang samak belum juga pindah dari rumahnya. Saudagar itu kembali memperingatkannya, tapi lagi-lagi masih ada kulit mentah yang belum disamak dan tukang samak meminta kelonggaran lagi. "Baiklah!" seru saudagar kaya sambil menutup hidung dengan 2 jari.
Kulit mentah si tukang samak sepertinya tak habis-habis. Waktu berlalu, satu minggu menjadi dua minggu, dua minggu menjadi tiga minggu, tiga minggu menjadi sebulan. Saudagar kaya tak lupa mengingatkan, kali ini dengan berkacak pinggang.
Seperti biasa si tukang samak sudah menunggu kedatangan si saudagar kaya. Kali ini bahan kulit mentahnya sudah tinggal beberapa lembar, ia tak punya alasan lagi untuk menunda kepindahannya. Ia menunggu kedatangan saudagar dengan cemas. Tapi hari berlalu dan saudagar tak datang juga. Sore harinya setelah selesai menyamak, tukang samak penasaran dan mengunjungi tetangganya itu. Saudagar kaya sedang berada di halaman, dia sedang menikmati udara sore.
"Selamat sore, Tuan Saudagar!" kata tukang samak dengan sopan.
"Selamat sore, Tukang Samak! Aku sedang menghirup udara segar sore ini!" seru saudagar. "Seminggu ini aku senang bau busuk dari rumahmu lama kelamaan menghilang. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu dan tak usah pindah," katanya, tangannya melambai senang.
Tukang samak tersenyum. Ia berterimakasih dan tidak bilang apa-apa lagi. Ia tahu bau busuk pekerjaan menyamaknya tidak hilang sama sekali, ...hanya saja hidung saudagar kaya itu sekarang sudah terbiasa dengan baunya.

Terjemah bebas dari The Rich Man and the Tanner, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : hal apapun, yang buruk maupun yang baik,  jika dibiasakan akan menjadi kebiasaan. Tentunya yang kita inginkan tentu kebiasaan baik, maka biasakanlah melakukan sesuatu hal yang baik.




Pohon Delima, Pohon Apel, dan Belukar


Di sebuah kebun hidup berdampingan pohon delima dan pohon apel. Mereka hidup tidak rukun. Selalu saja mereka bertengkar tentang sesuatu. Mereka senang sekali menyombongkan diri mereka sendiri.
"Lihatlah diriku yang tinggi dan rimbun!" seru pohon delima. Tak mau kalah pohon apel membalas, "Tak serindang dan sehijau daun-daunku!"
Ketika pohon delima berbunga, ia berkata, "Alangkah indahnya diriku ini, dihiasi oleh bunga-bunga mekar indah rupawan!"
Ketika giliran bunga pohon apel mekar, ia berseru, "Amboi betapa senang semua orang melihat diriku bertaburan bunga-bunga yang sedang mekar!" 
Jika musim buah delima tiba, ia selalu berkata, "Oh, alangkah ranumnya buah delima. Semua orang menyukai buahku yang segar dan manis. Aku pohon kebanggaan Pak Tani."
Jika musim buah apel tiba, giliran pohon apel yang berseru, "Oh, lihatlah buah apel yang besar menggoda. Buahku lebih manis berair, membuat Pak Tani tak sabar ingin memetiknya!"
Dan begitulah mereka. Setiap musim mereka membanggakan diri mereka sendiri. Suatu ketika mereka bertengkar hebat sekali.
"Aku lebih tinggi!" kata pohon delima.
"Ya, tapi buahmu masam!" jawab pohon apel. "Lihat daun-daunku lebih rimbun!"
"Ya, tapi bungamu putih pucat!" seru pohon delima.
Kali ini ada yang sudah tidak tahan lagi mendengarnya. Sejumput belukar yang tumbuh di tepi kebun sudah bosan mendengar pertengkaran mereka. Ia tanaman yang tumbuh pendek, tak berbuah, dan tidak rindang. Semakin kesal dirinya mendengar kesombongan mereka berdua.
Ia lalu berteriak, "Hai kalian berdua! Hentikan pertengkaran kalian! Jika kalian tidak bisa saling menghargai satu sama lain, bisakah kalian menghargai diriku ini?"
Pohon delima dan pohon apel saling memandang. Lalu mereka menatap belukar yang bertubuh pendek, tidak pernah berbuah, dan berdaun jarang. Mereka saling memandang lagi, lalu diam tertunduk malu.

Terjemah bebas dari The Pomegranate, the Apple-Tree, and Bramble, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : tidak hanya yang bertengkar yang saling menyakiti, bisa jadi tanpa disadari lebih banyak orang lain yang disakiti.

Pak Tani dan Pohon Rambutan

Kebun Pak Tani luas sekali. Di dalamnya banyak sekali pohon buah. Ada pohon apel, pohon pisang, jambu, jeruk, nangka, durian, rambutan dan masih banyak pohon lainnya. Sungguh senang sekali jika sudah saatnya panen buah. Buah-buahan yang ranum bergantungan di dahan pohon, menunggu untuk dipetik. Buah apel hijau besar bergelayutan di dahan. Buah jambu air berwarna merah manis berair saat dikunyah. Buah pisang kuning langsat rasanya manis legit. Buah jeruk berwarna jingga manis asam menggoda lidah. Buah nangka besar dan hijau, jika dibelah harumnya tak tertahankan, daging buahnya kuning dan empuk. Dan jangan ditanya jika pohon durian yang sedang berbuah. Wah! Harum durian tersebar ke seluruh kebun! Pak Tani sangat bersuka cita dengan hasil kebunnya.
Tapi ada satu yang disayangkan Pak Tani. Sudah bertahun-tahun ia menunggu pohon rambutannya berbuah, tapi akhir penantiannya tak kunjung tiba juga. Pohon rambutannya tetap tidak mau berbuah. Pohon itu hanya menjadi tempat tinggal banyak burung pipit dan kenari. Kesabarannya habis sudah. Ia mengambil kapak untuk menebang pohon itu.


Burung-burung yang tinggal di pohon rambutan mengetahui maksud Pak Tani. Mereka lalu mengerubunginya, memohon agar pohon itu tidak ditebang.
"Cuit-cuit! Pak Tani yang baik hati! Kami mohon agar kamu tidak menebang pohon ini. Pohon ini adalah tempat tinggal kami. Mohon berbaik hatilah!" seru mereka dengan ramai.
Tapi Pak Tani tidak bergeming. Ia melangkah tegap ke arah pohon rambutan.
"Cuit-cuit! Pak Tani yang baik budi! Janganlah kau tebang pohon ini, biarkan kami menggantinya. Kami akan menyanyi setiap hari untuk menghiburmu," begitu kata burung-burung kenari. "Dan kami akan membantumu merawat kebunmu," tambah burung-burung pipit.
Tapi Pak Tani tak juga bergeming. Ia mengayunkan kapaknya. Duak! Duak! Duak! Suara kapak menghantam batang rambutan terdengar membahana. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepalanya. Benda lengket menempel di rambutnya. Apa itu? Pak Tani segera saja berburuk sangka. "Burung-burung tadi pasti buang air di kepalaku!" Pak Tani berkata geram. Ia melepaskan kapaknya, tangan kirinya menyapu rambutnya. Dengan jijik Pak Tani mengamati tangannya yang lengket berwarna kuning. Ia mencium baunya. Yeek! Kotoran! pikirnya jijik. Tapi mulut Pak Tani berkata lain. Pak Tani malah berseru kaget, "Wooowww!!"
Ternyata benda lengket yang menimpanya adalah sarang madu. Lebah madu bersarang di dalam pohon rambutannya! Madu menetes-netes keluar dari dalam lubang pohon. Pak Tani tertawa gembira. Madu dari pohon rambutanku! Segera ia berlari pulang, menyimpan kapak dan membawa botol kosong untuk wadah madu miliknya. Pak Tani tidak jadi menebang pohon rambutannya. Ia merawatnya lebih baik dari sebelumnya. Semua burung menyaksikan dan bernyanyi gembira. Cuit-cuit! Tralala! Cuit-cuit! Trilili!

Terjemah bebas dari The Peasant and the Apple-Tree, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : seringkali orang sering lupa untuk memperhatikan kepentingan orang lain, dan lebih mementingkan kepentingannya sendiri.
 
  

Anjing Pemburu Tua

Seekor anjing berlari terengah-engah di ladang. Ia berlari cepat sekali. Telinganya yang panjang mengepak-ngepak naik turun seperti sayap kupu-kupu. Ia tampak sangat lelah, lidahnya menjulur keluar, tapi ia tidak berhenti berlari. Apa kiranya yang sedang ia kejar?
Ternyata ia mengejar seekor babi hutan. Babi hutan berlari ngebut. Ia berlari lurus seperti tembakan anak panah. Kepalanya tertunduk menyeruduk. Apapun yang menghalanginya ia sundul. Langkah kakinya berderap cepat, tapi ia masih kalah cepat dari si anjing.
Anjing itu sudah tua, tapi ia masih bisa berlari lebih cepat dari babi hutan. Sudah bertahun-tahun ia mengabdi pada majikannya, Pak Pemburu. Dahulu ia berlari lebih cepat, bergerak lebih gesit, menggonggong lebih lantang. Ia tidak pernah gagal menangkap buruan sasaran Pak Pemburu, bahkan yang paling cepat dan kuat pun. Dan kali ini pun tampaknya ia akan menangkap babi hutan ini, walaupun harus dengan susah payah.
Anjing tua melompat, menerjang babi hutan. Babi hutan jatuh terpelanting. Dengan tenaganya yang tersisa anjing segera menerkamnya, menggigit kuping babi hutan. Sekarang atau tidak sama sekali, pikir anjing tua itu. Tapi apa yang terjadi? Si babi hutan tertawa terbahak-bahak.
"Huahahaha! Huahahah! Hentikan! Hentikan! Huahahahah!" si babi hutan tak bisa berhenti tertawa.
"Huahahahah! Huahahah! Geli! Hentikan! Tolong!!!!" seru babi hutan lagi tak henti-hentinya.
Ternyata anjing menggigit babi hutan dengan giginya yang ompong. Ompong? Ya! Seluruh gigi anjing tua sudah tanggal sehingga bukannya menggigit babi hutan, anjing tua malah cuma menjilat-jilat kuping babi hutan.


Babi hutan meronta-ronta geli. Anjing tua yang sudah kehabisan tenaga tidak berdaya dibuatnya. Babi hutan berhasil melepaskan diri, ia lari kencang ke dalam hutan. Tak berapa lama Pak Pemburu datang dan ia melihat anjing tua tidur-tiduran di atas rumput. Pak Pemburu sangat kecewa karena buruannya lepas dan ia memarahi anjing tua itu habis-habisan.
Anjing tua menoleh ke arah tuannya sambil berkata terengah-engah, "Maafkan aku Tuan! Jangan salahkan aku untuk hal ini. Semangatku masih sama seperti aku muda dulu, tapi aku tak bisa mengatasi usia tuaku." Anjing tua itu menatap tuannya dengan pandangan sayu.
"Kalau boleh memilih, aku lebih suka jika tuan menghargai kerja kerasku selama ini daripada mencelaku karena keadaanku sekarang."

Terjemah bebas dari The Old Hound, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : jangan mudah mencela kegagalan, hargai usaha dan kerja kerasnya!

Keledai dan Perampok

Pak Saudagar selalu bepergian. Ia membeli gandum dan ia pun menjual gandum. Ia membeli gandum dari Pak Tani ketika panen tiba, lalu ia menjualnya lagi ke pasar di kota besar.
Panen raya sudah tiba. Sudah waktunya Pak Saudagar bepergian. Pagi-pagi buta ia sudah berkemas. Ia membawa dua keledainya. Masing-masing membawa dua kantung besar. Kantung besar yang masih kosong untuk mengangkut gandum.
Hasil panen Pak Tani kali ini melimpah ruah. Bulir-bulir gandum penuh padat berisi. Pak Tani bersuka cita. Ia menunggu Pak Saudagar datang membeli. Tak perlu menunggu lama, Pak Saudagar tiba dengan dua keledainya. Berkarung-karung gandum segera dimuat. Tinggi bertumpuk di atas punggung dua keledai. Tapi keledai binatang yang kuat, beban berat diangkut dengan mudah. Tanpa kesulitan mereka segera berangkat ke kota besar.
Perdagangan Pak Saudagar sangat sukses. Dengan segera ia menjual setengah gandumnya. Berkarung-karung gandum ditukar dengan berkantung-kantung uang emas. "Cukuplah untuk hari ini", pikir Pak Saudagar. "Mari kita pulang!" ajaknya pada dua keledainya. Pak Saudagar memuat karung-karung gandumnya pada satu keledainya dan memuat kantung-kantung uang emas pada keledainya yang lain. Lalu mereka beranjak pulang.
"He-hah!" keledai yang mengangkut kantung emas meringkik dan tersenyum lebar. Dadanya membusung, langkah kakinya tegap, kepalanya mendongak dengan pongah. Bel di lehernya berdentang-dentang, sengaja ia goyangkan naik-turun dengan semangat. Ia bangga dipercaya mengangkut kantung uang emas Pak Saudagar. "Lihat aku!" katanya dengan angkuh pada keledai temannya yang mengikuti di belakang.
Tak mereka ketahui, gerombolan perampok telah mengintai mereka di pasar. Para perampok lalu menguntit mereka dalam perjalanan pulang. Begitu mereka lewat di tempat yang sepi, para perampok itu bermunculan dari persembunyiannya.
"Serahkan uangmu, saudagar!" kata mereka mengancam.
Pak Saudagar terkejut, tapi ia segera memecut keledai pembawa kantung emas keras-keras agar melompat dan berlari cepat. Tapi para perampok lebih cepat. Mereka segera menjerat keledai itu dengan tali tambang yang kuat. Para perampok sudah dari tadi mengincar keledai membawa kantung emas. Keledai meronta-ronta, tapi tanpa ampun para perampok memukuli keledai itu agar diam. Keledai tergeletak tak berdaya, seluruh tubuhnya babak belur. Dengan mudah perampok mengambil kantung-kantung emas Pak Saudagar. Puas dengan hasil jarahan, mereka segera melarikan diri.
"He-hah!" ringkik keledai, tapi kali ini ia tidak tersenyum sama sekali. Keledai tergeletak di tengah jalan. "Aduuh! Sakit sekali! Kenapa nasibku malang begini!" serunya dengan memilukan.
"He-hah!" jawab keledai temannya, si pengangkut gandum. "Aku bersyukur aku selamat tanpa luka sedikitpun, bahkan barang bawaanku pun masih utuh tanpa hilang sebutir gandumpun."   
"Bersyukurlah kita masih hidup!" seru Pak Saudagar. "Para perampok terkenal kejam dan bengis! Tidak memberi ampun," hibur Pak Saudagar sambil menolong keledai yang terkapar untuk berdiri. "Lagipula kita masih punya banyak gandum untuk kita jual kembali!" katanya sambil membelai keledai pembawa gandum dengan suka cita.

Terjemah bebas dari The Mules and the Robbers, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : jabatan yang lebih tinggi, tanggungjawab yang lebih besar, resikonya tentu lebih besar.
Pesan lain dari cerita ini : jangan sombong dengan sesuatu yang bukan milikmu.

Anjing yang Nakal

Di sebuah kota tinggal seorang pedagang tinggal di pasar. Dia memiliki seekor anjing muda. Anjingnya sangat ia manjakan, tetapi akibatnya anjing itu menjadi tidak bisa diatur.
Anjing itu senang sekali menyelinap di belakang orang-orang. Ia mengendap-endap lalu menggigit tumit sepatu mereka. Semua orang sebal dengan kelakuan anjing itu, apalagi para pembeli di pasar. "Aku harus melakukan sesuatu," begitu pikir si pedagang.

Ia lalu mengikatkan seutas tali di leher anjingnya. Ujung tali yang lain ia ikatkan ke sebuah potongan kayu. Kemanapun anjing itu pergi, potongan kayu itu akan terseret-seret olehnya dan berbunyi klotak! klotak! klotak! "Nah, sekarang kamu tidak bisa mengendap-endap di belakang orang lalu menggigit mereka," kata pedagang itu, "mereka akan tahu lebih dulu kedatanganmu!"
Kelakuan anjing itu ternyata tidak berubah. Ia tetap berusaha menggigit tumit sepatu orang yang lalu lalang. Ia menganggap kayu yang diikatkan majikannya adalah tanda kehormatan. Dengan bangga ia berlari-lari sekeliling pasar sambil memperdengarkan bunyi klotak! klotak! klotak! Semakin nyaring bunyinya semakin bangga ia akan dirinya.
Suatu hari ia bertemu dengan seekor anjing tua. Anjing itu memperhatikan dirinya sepanjang hari, sehingga ia merasa terganggu. Ia pun mendekati anjing tua itu lalu bertanya dengan ketus, "Pak tua! Kenapa kau memata-matai aku?"
Anjing tua itu tertawa dan menjawab dengan sopan, "Hai nak! Bukan aku yang memata-mataimu. Tapi dirimu sendiri yang ingin diperhatikan."
Anjing tua itu melangkah mendekat sambil menasihati, "Nak, kenapa kamu begitu bangga dengan dirimu sendiri hingga berlari-lari di jalanan dengan benda berisik yang menggantung di lehermu?" Anjing muda melotot dengan marah tapi ia masih mendengarkan.
"Dengarkan aku yang sudah tua ini, yang telah melihat dunia lebih lama darimu, telah berpetualang sangat jauh di negeri ini. Kayu di lehermu itu bukanlah tanda kehormatan! Itu adalah tanda yang memalukan. Sebuah tanda bagi semua orang untuk menjauhimu, karena kamu anjing yang berkelakuan buruk!"
Anjing muda itu sekarang tertunduk malu dan bergegas lari mencari tuannya.  

Terjemah bebas dari The Mischievous Dog, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : kebekenan karena perbuatan buruk sering disalahartikan sebagai kemasyhuran. Padahal bukanlah nama baik yang diingat orang, tetapi nama buruk.

Lelaki dan Pohon


Dahulu kala, di suatu siang yang amat terik menyengat, seorang lelaki melangkah masuk ke dalam hutan kecil. Ia membawa sebuah kantung kulit yang terikat di pinggangnya. Ia duduk berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang untuk melepas lelah. Dengan ujung bajunya ia menyeka peluh di dahinya.
Setelah cukup lama beristirahat, ia membuka kantung kulitnya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Kantung itu bukan berisi bekal makan siangnya, tetapi berisi sebuah kepala kapak besi. Ia menimang-nimangnya sebentar lalu berdiri. Ia lalu berjalan berkeliling hutan kecil itu mencari sesuatu, tetapi ia tidak bisa menemukannya. Apa kiranya yang dia cari?
Lelaki itu berjalan lagi berkeliling sambil mencari-cari sesuatu di tanah, tetapi lagi-lagi ia kecewa. Ia tidak menemukan apa yang dia cari. Setelah lama berputus asa ia mendongak ke atas, menatap pohon-pohon rindang di sekelilingnya.
"Pohon-pohon yang baik" serunya. "Mohon berilah aku satu saja batang kayu yang kuat kepunyaanmu. Sedikit kebaikan darimu untuk yang membutuhkan!" lelaki itu memohon.
Pohon-pohon memiliki sifat yang tenang dan baik hati. Mereka selalu memberikan yang baik untuk makhluk lain. Daun-daun yang rindang untuk berteduh, udara yang segar, buah-buahan yang ranum dan manis, mereka berikan cuma-cuma kepada yang lain. Apa artinya sebatang kayu untuk lelaki ini?
Sebuah cabang pohon jatuh terlepas dari dahannya. Jatuh tergeletak di hadapan lelaki itu. Dengan sigap si lelaki mengambilnya lalu memasangnya kuat-kuat ke kepala kapak. Tanpa banyak bicara, ia lantas mengayunkan kapaknya. Ia menebang semua pohon di hutan kecil itu hingga jatuh bergelimpangan tak bersisa.

Terjemah bebas dari The Man and the Wood, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : ada orang yang bersifat serakah, diberi sejengkal minta sedepa, diberi hati minta rempela.
  

Suami dan Dua Istrinya


Dahulu kala ada seorang lelaki paruh baya yang memiliki dua istri. Istrinya yang kedua lebih muda dari istrinya yang pertama. Walaupun begitu mereka hidup rukun bahagia.
Tahun berganti, lelaki itu beranjak tua. Walaupun begitu kedua istrinya tetap mencintainya dan berharap suaminya tetap serasi dengan mereka. Sekarang uban mulai bermunculan di sela-sela rambut lelaki itu. Rambutnya yang tadinya hitam legam sedikit-sedikit bercampur rambut putih.
Istri muda tidak suka melihat uban di kepala suaminya. Ia ingin suaminya tetap terlihat muda sehingga mereka tetap terlihat sebagai pasangan yang serasi. Jika suaminya tidur beristirahat di malam hari, ia lalu duduk di sampingnya membawa sisir. Ia menyisir rapi rambut suaminya sambil mencabuti uban di kepalanya.
Istri yang tua juga ingin agar suaminya serasi dengannya. Ia senang melihat rambut suaminya yang tidak lagi hitam legam. Ia senang melihat rambut suaminya yang putih keabuan. Ia tidak ingin ia terlihat lebih tua dibandingkan suaminya. "Masa aku terlihat menikah dengan pria muda? Lebih buruk lagi bagaimana jika aku dikira ibunya!" demikian seru kata hatinya. Maka setiap pagi sebelum suaminya berangkat bekerja, ia berdiri menyisir rambutnya dan mencabuti rambut hitam di kepala suaminya.
Tak perlu waktu lama, suaminya menjadi botak. Pada malam hari rambut putihnya dicabut, pada pagi hari rambut hitamnya diambil. Ia duduk kebingungan di depan cermin, "Sejak kapan aku menjadi botak?"

Terjemah bebas dari The Man and His Two Wives, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : Menyerah pada kemauan semua orang, dan akhirnya kita tidak memiliki apapun untuk diserahkan.   


Rambut Palsu Singa

Di dalam hutan tinggal seekor singa. Singa ini sedikit berbeda dengan singa jantan lainnya.
Apakah ia lebih kuat? Bukan!
Apakah ia lebih besar? Tidak!
Apakah ia lebih tampan? Sama sekali tidak!
Singa ini terkenal lucu. Apakah ini perbedaannya? Hampir tepat, tetapi belum benar.
Singa ini adalah seekor singa jantan lucu yang botak. Ya! Di kepala singa ini tidak tumbuh satu helai rambut pun. Perlahan-lahan rambut di surainya rontok satu persatu hingga akhirnya tak bersisa. Ia sebenarnya malu untuk keluar dari sarangnya tanpa rambut, tapi apa daya tentunya setiap pagi ia harus keluar mencari makan. Oleh karena itu ia memiliki rambut palsu yang ia pakai setiap kali ia pergi.


Pagi ini pun ia pergi keluar dari sarangnya di hutan. Ia bermaksud pergi mencari makan ke padang rumput. Ketika tiba di persimpangan, di seberang jalan ia melihat singa-singa betina yang cantik jelita hendak menyeberang. Sebagai singa jantan yang tahu sopan santun, tentu saja ia harus menghormati para singa wanita itu. Ketika para singa betina itu lewat di depannya, ia lalu tersenyum lebar sekali dan membungkuk dengan santun.
Tak dinyana, tepat ketika rombongan singa betina lewat, sebuah angin kecil yang jahil bertiup. Angin itu meniup rambut palsu singa hingga terbang ke udara, meninggalkan kepala singa jantan yang gundul. Singa jantan berdiri di hadapan para singa betina dengan amat malu, dan lebih parah lagi dengan menunjukkan kepala gundulnya yang licin berkilau seperti semangka.
Tapi ia adalah seekor singa pandai yang lucu, walaupun pada awalnya malu bukan kepalang, ia malah berkata pada para singa betina itu. "Wah, wah, wah!" serunya sambil tersenyum. "Yah, mau bagaimana lagi. Bagaimana mungkin rambut orang lain mau diam di atas kepalaku? Sedangkan rambutku sendiri saja tidak mau tinggal di atasnya!"
Ia tersenyum lebar dan singa-singa betina yang jelita tertawa geli mendengar gurauannya.   

Terjemah bebas dari The Lost Wig, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : orang pandai pasti tahu jawaban yang tepat
   


Jangkrik dan Burung Hantu

Sebuah pohon besar yang rindang tumbuh di tepi ladang. Di tengah-tengah batangnya terdapat sebuah lubang. Lubang itu adalah rumah seekor burung hantu. Sore ini ia kedatangan tamu. Seekor jangkrik baru saja pindah menjadi tetangganya di pohon itu, ia tinggal di dahan pohon yang rendah. Burung hantu menyambut tetangga barunya ini dengan gembira. Sudah cukup lama ia tinggal di pohon besar ini sendirian.
Ketika malam tiba, seperti biasa burung hantu terbangun. Sudah kebiasaannya untuk mencari makanan saat langit sudah gelap. Ia terbang di atas ladang, mencari tikus-tikus untuk disantap. Dan ketika matahari pagi sudah menyingsing ia pulang ke rumahnya, ke lubang di batang pohon besar, untuk tidur beristirahat sepanjang hari.
Jangkrik pun biasa terbangun di malam hari. Ia seorang penyanyi yang riang gembira. Ia senang mengerik, Krik-krik! Krik-krik! Krik-krik! Seperti jangkrik lainnya, ia bernyanyi sepanjang malam. Tapi tak seperti jangkrik lainnya, jangkrik ini jangkrik penyanyi yang terlalu bersemangat. Ia bernyanyi sepanjang malam, hingga matahari terbit, bahkan ketika matahari sudah naik ke atas langit. Jangkrik ini tak bosan-bosannya menyanyi.
Burung hantu merasa terganggu dengan kelakuan tetangga barunya. Ia tak lagi bergembira memiliki seorang tetangga. Ini waktunya ia beristirahat. Bagaimana mungkin ia bisa tidur dengan suara berisik ini?
"Tetanggaku yang baik, tuan Jangkrik!" seru burung hantu dari dalam lubang pohon, "bisakah engkau berhenti bernyanyi? Aku terbang mencari nafkah sepanjang malam, sekarang adalah waktuku untuk beristirahat."
KRIK-KRIK! KRIK-KRIK!
"Pak Jangkrik! Aku mohon pengertianmu. Bisakah kita bertetangga dengan baik? Bisakah engkau berhenti menyanyi sehingga aku bisa tidur siang ini?"
KRIK-KRIK! KRIK-KRIK! KRIK-KRIK! Jangkrik tetap bernyanyi tak peduli.
Burung hantu sangat kesal, tapi ia malah berkata dengan nada manis kepada jangkrik, "Pak Jangkrik yang baik! Baiklah! Karena kamu tak sudi berhenti menyanyi, maka siang ini aku akan nikmati saja nyanyianmu yang merdu sambil menikmati semangkuk madu bunga yang manis dan segar. Jika kamu menyukainya, mari kita nikmati bersama di dalam rumahku!"
Jangkrik yang sedari tadi menyanyi, memang benar-benar sedang kehausan. Ia merasa senang burung hantu memuji nyanyiannya. Jangkrik melompat naik, lantas masuk ke lubang pohon.
Burung hantu sudah menunggunya, tapi tidak dengan semangkuk madu. Burung hantu dengan sigap menangkap jangkrik dan membekapnya hingga tak bisa bersuara. Ia mengikat jangkrik itu di depan pintu. Sudah habis kesabarannya. Bukankah yang ia inginkan hanya saat tenang untuk beristirahat?

Terjemah bebas dari The Grasshopper and the Owl, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : kesabaran itu ada batasnya, bahkan orang yang paling baik pun bisa habis kesabarannya.



   
      

Kutu dan Lembu

Seekor kutu hinggap di tubuh lembu. Seharian ia bertengger di kepala lembu. Di pagi buta ia ikut bangun ketika lembu bangun pagi. Ia pun menumpang ketika lembu pergi ke ladang. Ia ikut membajak ladang bersama lembu, dari pagi hingga siang hari. Ia ikut beristirahat di hidung lembu, bergoyang berayun-ayun ketika lembu mengunyah rumput hijau makanan siangnya. Ia turut lembu ke sungai, bolak-balik mengangkut tong penuh berisi air. Pada sore hari barulah mereka pulang ke kandang.


Kutu bertanya kepada lembu, "Lembu, kenapa kamu mau saja bekerja keras untuk Pak Tani? Lihatlah badanmu besar dan kuat! Mau-maunya kamu menjadi budak manusia seperti Pak Tani!" Lembu diam saja mendengar pertanyaan kutu.
"Lihatlah diriku ini! Walaupun aku kecil tapi aku bisa membuat mereka menderita. Aku menghisap darah mereka tanpa ampun. Aku membuat mereka menggaruk-garuk tak tahan gatal!" kutu membanggakan perbuatannya.
Lembu kemudian menjawab dengan ramah, "Yah, kutu! Pak Tani memperlakukanku dengan baik. Aku bukan makhluk yang tidak tahu terimakasih. Walaupun aku bekerja keras setiap hari, aku dirawat dan diberi makan dengan cukup. Pak Tani pun menyayangiku. Setiap hari ia mengusap-usap kulitku, dan tangannya menepuk-nepuk kepala dan pundakku penuh kasih sayang."
Kutu malah bergidik ngeri mendengarnya. Ia berseru dengan keras, "Mati aku!"
"Ada apa denganmu, kutu?" tanya lembu keheranan.
"Tepukan sayang tangan Pak Tani untukmu!" seru si kutu, "bayangkan jika sekali saja tepukan sayang itu mendarat di tubuhku, maka tubuhku akan gepeng!"
Lembu tertawa terbahak-bahak mendengarnya, dan kutu pun ikut tertawa bersamanya.

Terjemah bebas dari The Flea and the Ox, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : menanggapi suatu kejadian atau hal yang sama, orang bisa memiliki pandangan berbeda-beda.
Pesan lain dari cerita ini : berbuat baik mendapat ganjaran, berbuat buruk mendapat hukuman.

Pak Gembala dan Lautan


Suatu hari Pak Gembala menggembalakan kambing-kambingnya jauh dari tempat biasanya. Ia pergi menggembala di atas tebing di tepi pantai. Ia duduk memandang jauh ke lautan sedangkan kambing-kambingnya pergi merumput tak jauh darinya. Lautan itu tampak begitu tenang. Kapal-kapal layar berwarna putih hilir mudik dengan anggun di atasnya. Suara ombak yang memecah di bebatuan membuat irama yang meninabobokan. Pak Gembala menikmati suasana yang menenteramkan itu sambil meniup seruling, menyanyikan lagu yang mengalun indah.
"Oh, alangkah menyenangkannya pergi berpetualang menyeberang lautan luas!" pikir Pak Gembala, "aku akan membeli sebuah kapal dan pergi berdagang ke negeri yang jauh di seberang sana." Dan itulah yang ia lakukan. Ia menjual semua kambing miliknya dan membeli sebuah kapal yang ia isi penuh dengan buah kurma yang manis. Ia akan berlayar ke negeri seberang menjual kurma.
Pak Gembala akhirnya menarik jangkar, sudah saatnya ia berlayar. Lautan begitu tenang, angin bertiup membawa udara sejuk. Kapalnya berlayar perlahan memecah ombak. Pak Gembala duduk di buritan, menikmati suasana. Semuanya tampak begitu sempurna untuknya.
Tapi tiba-tiba angin bertiup dengan kencang. Awan hitam berkumpul bergulung-gulung. Hujan deras mengguyur tiba-tiba. Air lautan bergolak. Buih terpercik. Ombak menghantam dinding-dinding kapal. Pak Gembala terombang-ambing di dalamnya seperti orang-orangan dalam kapal mainan. Pak Gembala hanya bisa diam meringkuk ketakutan. Air mulai memenuhi kapal, kapal itu mulai tenggelam perlahan.
Tanpa pikir panjang Pak Gembala membuang semua muatan kapal. Semua kurma dagangannya ia lempar ke dalam laut. Secepat datangnya badai, begitupun badai cepat mereda. Lautan kembali tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Pak Gembala selamat sampai ke tepi pantai, tapi dengan kapal yang kosong melompong.
Beberapa waktu kemudian, Pak Gembala berjalan di tepi pantai dengan seorang kawannya. Kawannya memandang lautan dan berkata, "Alangkah senangnya berlayar saat ini. Lihat, betapa tenangnya lautan ini!"
Pak Gembala menjawab sambil tersenyum, "Tampaknya laut sedang ingin makan buah kurma lagi, makanya ia tampak tenang seperti ini."
Kawannya bengong tak mengerti.

Terjemah bebas dari The Shepherd and the Sea, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini  : jangan mudah tertipu dengan penampilan yang mempesona.   
Pesan lainnya :  ada tipe orang yang terlihat pendiam tetapi memiliki kekuatan yang dahsyat, kepandaian yang tinggi, kebijaksanaan yang dalam. Diam-diam menghanyutkan.  
 
 

Pedagang Patung

Dahulu kala di sebuah kota di negeri yang jauh, hiduplah seorang Tukang Kayu. Ia mahir membuat berbagai perkakas dari kayu, tetapi barang-barang buatannya belum ada yang membuatnya makmur. Sekarang ia sedang menekuni pekerjaan barunya, ia mulai membuat patung dari kayu.
Nah, tahukah kamu bahwa ketika itu masih ada orang yang memuja patung dewa-dewi? Si Tukang Kayu itu bermaksud membuat patung seperti itu untuk ia jual. Ia pergi ke hutan mencari kayu, lalu ia bawa pulang untuk dipahat. Ia memahat dengan tekun dan akhirnya ia berhasil membuat sebuah patung kayu yang cukup indah.


Keesokan harinya ia membawa patung itu ke pasar. Pasar itu sangat ramai. Para pedagang menggelar dagangannya di pinggir jalan. Para pedagang menghamparkan tikar dan permadani berwarna-warni menjadi alas untuk dagangan mereka. Beberapa membawa meja kayu dan memasang terpal di atasnya. Kemanapun mata memandang, pasar itu penuh sesak dengan orang yang lalu lalang dan barang-barang yang bertumpuk-tumpuk. Penjual berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Pembeli berteriak-teriak menawar harganya. Nah, di salah satu sudut pasar itulah Si Tukang Kayu itu memajang patungnya.
Ia sudah duduk dari pagi. Ratusan orang sudah lalu-lalang di depannya. Beranjak tengah hari ia mulai gelisah. Tidak ada satupun orang yang melirik ke arahnya. Pasar telah mulai sepi, dan sekarang ia benar-benar telah berputus asa. Ia pulang ke rumahnya dengan tangan hampa.
Tapi ia tidak menyerah. Esok harinya ia pergi pagi-pagi sekali, lalu mencari tempat kosong di tengah pasar. Ia memajang patungnya sebaik mungkin, lalu ia berdiri di sampingnya. Pasar kembali ramai, penjual sudah memajang barang dagangan, pembeli mengalir berdatangan. Pasar penuh sesak, penjual dan pembeli berjubel di dalamnya. "Sekarang kesempatanku!" pikir Si Tukang Kayu, ia lalu berdiri dengan bersemangat dan berseru-seru.
"Saudara-saudari sekalian! Saudara-saudara yang tampan dan rupawan. Saudari-saudari yang cantik menarik. Lihatlah patung yang demikian indah ini. Akan membuat rumah anda menjadi semakin indah!"
Orang-orang mulai berkumpul di depan patungnya. Mereka mengamati dan menaksir, tapi tak ada satupun dari mereka yang menawar harganya.
"Bapak-bapak yang budiman, ibu-ibu yang dermawan, lihatlah patung yang demikian indah. Cocok untuk dipajang di ruang tamu. Para tamu akan terpukau melihatnya!"
Semakin banyak orang yang berkumpul. Mereka mengamati dan menaksir, tetapi tetap tidak ada satupun yang menawar. Si Tukang Kayu semakin bersemangat.
"Semua orang yang hadir! Milikilah satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan patung berharga ini. Patung yang hanya ada satu-satunya di dunia. Patung yang akan memberikan kemakmuran. Patung yang akan mendatangkan tumpukan harta bagi pemiliknya. Patung yang sangat berharga tiada duanya!" Si Tukang Kayu membual agar patungnya terjual.
Seorang penonton bertanya padanya keheranan. Ia berseru, "Hei Pak Penjual Patung! Jika memang patung ini begitu berharga dan membawa kekayaan bagi pemiliknya, kenapa kau jual patung ini?"
Si Tukang Kayu terdiam sejenak, tapi ia lalu menjawab dengan tangkas, "Bapak yang budiman! Aku menjual patung ini karena kepepet, sedangkan ia tidak bisa memberiku kekayaan dengan cepat."
Semua orang tertawa mendengar perkataannya. Semua orang berpikir, betapa pandainya pedagang patung ini membual.

Terjemah bebas dari The Seller of Images, www.aesopfables.com

Pesan dari cerita ini : hati-hati mendengar rayuan, pikirkan masak-masak apa motifnya.